Pentingnya Pendidikan Karakter

oleh : Muflihatul Qiromah. M.Pd

Pendidikan karakter di dunia pendidikan terasa mulai luntur, hal ini disebabkan berbagai faktor. Di antaranya adalah karena adanya pengaruh digitalisasi, pola perubahan sosial yang ada, dan adanya pola pendidikan yang muatan kurikulumnya terlalu banyak sehingga fokus hanya pada akademik yang seolah mengabaikan pendidikan karakter yang menjadi pondasi utama untuk membentuk generasi yang tangguh siap menghadapi berbagai macam tantangan zaman ke depan.

Kurangnya pendidikan karakter mengakibatkan pada pola pergaulan anak yang mudah tersinggung, tidak punya kepedulian terhadap teman, kurangnya simpati dan empati, maunya menang sendiri, dan hal ini memicu adanya pola pembulian kepada teman, baik bullying  dalam bentuk fisik (mendorong), verbal (mengejek), sosial/relasional (mengucilkan), Siber (cyberbullying melalui media), seksualitas (pelecehan seksual). Hal ini yang menjadi permasalahan yang merata di semua jenjang pendidikan.

Fenomena yang terjadi di atas sudah digambarkan oleh Mahatma Ghandi (Soedarsono 2010) yang menyebutkan bahwa di masa yang akan datang akan timbul indikasi yang sangat buruk mana kala tujuh fenomena ini sudah terjadi, di antaranya adalah (1) merebaknya nilai-nilai dan prilaku orang yang memperoleh kekayaan dengan menghalakan segala cara tanpa bekerja (wealth wisthout work); (2) orang mendapatkan kesenangan tanpa hati nurani (pleasure without consienci); (3) perjalanan proses pendidikan tanpa karakter (education without charakter); (4) Berjalannya bisnis tanpa memperdulikan moralitas (commerce without ethic) (5) Ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan nilai-nilai kemanusiaan (science without humanity) (6) Belajar agama tanpa diimbangi dengan pengorbanan (religiuon without sacrifice)  dan (7) perjalanan politik tanpa diimbangi dengan prinsip (politic without principle).

Thomas Lickona (1992) menyatakan bahwa,”Suatu bangsa akan mengalami kehancuran, ketika karakter bangsa sudah kehilangan integritas, nilai-nilai atau prinsip-prinsip dalam diri bangsa itu sendiri”. Karena itu pendidikan karakter harus ditanamkan sejak dini secara terus menerus hingga mampu membentuk seseorang yang berkarakter kuat dan mulia. Seperti kata pepatah China,”Jika seseorang ingin membuat rencana satu tahun, maka tanamlah padi, jika ingin membuat rencana sepuluh tahun maka tanamlah pohon, dan jika ingin membuat rencana seumur hidup maka lakukan pendidikan dengan  baik”.

Pendidikan karakter merupakan suatu usaha untuk membantu perkembangan anak baik secara lahir maupun batin. Pendidikan ini harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan (never ending proses) sehingga mampu menghasilkan pendidikan yang berkualitas yang berkesinambungan ( continous quality improvement) dalam mewujudkan hasil pendidikan yang berdasar pada nilai-nilai budaya bangsa. (Mulyasa:2011). Hal ini mendasari bahwa pendidikan karakter harus terus ditanamkan sejak dini  di lingkungan, baik itu lingkungan keluarga sebagai lingkungan pertama yang sepenuhnya berperan penting dalam membentuk karakter, lingkungan masyarakat dan lingkungan teman bermain. Pola Pendidikan karakter yang berpengaruh terhadap anak dapat dilakukan  melalui pola keteladanan, pembiasaan, nasehat, perhatian/pengawasan dan hukuman. Kelima pola tersebut saling berkesinambungan antara satu dengan lainnya, untuk mencapai pembentukan karakter dengan maksimal, maka kelima pola tersebut berjalan beriringan.

Pendidikan karakter merupakan suatu proses pendidikan yang membutuhkan ruang lingkup pembiasaan melalui pola pendidikan di setiap waktu dan setiap saat. Hingga pola tersebut membentuk karakter yang diharapkan, yang mampu membentuk karakter yang melekat pada seseorang. Pendidikan karakter ini dimulai dari pendidikan keluarga yang menjadi pondasi awal dalam membentuk karakter. Bila pendidikan keluarga dan  lingkungan serta adanya  pola pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan (continous) baik dalam keluarga, masyarakat dan dunia pendidikan khususnya. Maka  karakter yang baik akan menjadi  pilar utama dalam mendasari pola kehidupan anak dalam proses pendidikan seumur hidup (lifelong education).

Daftar Pustaka

Ni Putu Suwardani. (2020). Quo Vadis Pendidikan Karakter. Bali: UNHI Press

Sri Zulfida, MA. (2020). Pendidikan karakter dalam Buku Ajar, Yogyakarta: Sulur Pustaka

Dr. Abdullah Nashih ‘ulwan Tahqiq Syaikh Ihsan Al-“utaibi. (2018). Tarbiyatul Aulad Fil Islam. Solo: Insan Kamil

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top