ISRA’ MI’RAJ: 7 Rahasia Perjalanan Spiritual Menembus Batas Logika

Oleh: Muhandis Azzuhri (Alumni MWI tahun 1995)

Urutan dan Rahasia Surah-Surah Musabbihat

Terdapat tujuh surat dalam Al-Qur’an yang diawali dengan kalimat tasbih, yaitu QS Al-Hadid, Al-Hasyr, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah, At-Taghabun, Al-A’la, dan QS Al-Isra. Semua surat ini dinamakan surat-surat Musabbihat (المسبّحات). Rahasia dan hikmah di balik pengawalan surah dengan tasbih adalah sebagai berikut:

Pertama: Mensucikan Allah sebelum membahas hal besar. Ini merupakan bentuk deklarasi kesucian Allah yang menembus batas logika manusia. Contohnya dalam QS Al-Isra; peristiwa Isra Mikraj secara logika manusia sangat mustahil, apalagi terjadi pada masa peradaban unta di abad ke-6 Masehi. Allah Swt. memulainya dengan kata Subhana (Maha Suci). Ini adalah pesan bahwa bagi Allah Yang Maha Suci, tidak ada yang mustahil. Logika manusia tidak boleh digunakan untuk membatasi kekuasaan Tuhan.

Kedua: Harmonisasi Seluruh Alam Semesta. Surat-surat ini sering kali menegaskan bahwa manusia bukan satu-satunya makhluk yang beribadah. Di awal surah Al-Hadid, Al-Hasyr, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah, dan At-Taghabun, disebutkan bahwa apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Rahasianya adalah seluruh atom di alam semesta berada dalam kondisi “ibadah”. Jika manusia tidak bertasbih, ia menjadi satu-satunya makhluk yang tidak selaras dengan harmoni alam.

Latar Belakang Peristiwa Isra Mikraj

Rasulullah ﷺ di-isra-kan dan di-mikraj-kan oleh Allah Swt. sebagai bentuk hiburan kepada beliau. Pada tahun 619 M, saat peristiwa tersebut terjadi, beliau baru saja kehilangan istri tercintanya, Siti Khadijah binti Khuwailid r.a., serta paman tercintanya, Abdu Manaf bin Abdul Muthallib atau yang lebih dikenal dengan Abu Thalib.

Selain itu, beliau juga mengalami peristiwa menyakitkan berupa pelemparan batu dan kotoran unta oleh penduduk Thaif ketika berdakwah di sana bersama sahabat Zaid bin Haritsah. Oleh karena itu, tahun tersebut dinamakan dengan ‘Amul Huzn (Tahun Kesedihan). Dalam kesedihan itu, Rasulullah ﷺ mengadu kepada Allah Swt. sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir dan al-Baghdadi dalam Al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi:

اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي، وَقِلّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِينَ! أَنْتَ رَبّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبّي، إلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهّمُنِي؟ أَمْ إلَى عَدُوّ مَلّكْتَهُ أَمْرِي؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي، وَلَكِنّ عَافِيَتَك هِيَ أَوْسَعُ لِي، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِك الّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَك أَوْ يَحِلّ عَلَيّ سُخْطُكَ، لَك الْعُتْبَى حَتّى تَرْضَى وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوّةَ إلّا بِك

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau rida kepadaku. Dan tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu.”

Doa ini menggetarkan langit hingga malaikat penjaga gunung mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Tuhanmu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Thaif ini ke atas mereka.”

Namun, jawaban Rasulullah ﷺ di luar dugaan nalar manusia biasa. Beliau menjawab:

اللَّهُمَّ اهدْ قَوْمِي؛ فإنَّهُمْ لا يَعْلَمُونَ

“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada umatku, karena mereka adalah umat yang tidak mengetahui.”

Dalam redaksi lain (HR. Bukhari: 3477 dan Muslim: 1792):

اللَّهُمَّ اغفر لقَوْمِي؛ فإنَّهُمْ لا يَعْلَمُونَ

“Ya Allah, berikanlah ampunan kepada umatku, karena sesungguhnya mereka adalah umat yang tidak mengetahui.”

Setelah tiga ujian besar inilah Rasulullah ﷺ di-isra-kan dan di-mikraj-kan, sebuah perjalanan suci yang diabadikan oleh Allah Swt. dalam QS Al-Isra ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَه لِنُرِيَه مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Detail Peristiwa Isra Mikraj Rasulullah ﷺ

Meskipun sering disebut dalam satu rangkaian kata, Isra dan Mikraj merupakan dua peristiwa berbeda yang terjadi dalam satu malam:

  1. Isra: Perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina) menggunakan Buraq. Secara logika manusia pada zaman itu, perjalanan ini membutuhkan waktu berbulan-bulan, namun ditempuh Nabi hanya dalam sebagian malam.
  2. Mikraj: Perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Aqsa naik menembus tujuh lapis langit hingga ke Sidratul Muntaha, tempat tertinggi di mana beliau berkomunikasi langsung dengan Allah Swt.

Proses perjalanan Isra dan Mikraj ini memberikan hiburan kepada Rasulullah ﷺ tentang luasnya alam semesta ini. Jikalau dimensi alam semesta ini dapat ditembus oleh manusia, maka perjalanannya bisa mencapai 50.000 tahun menurut perhitungan kita, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Al-Ma’arij ayat 4:

تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُه خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ

“Para malaikat dan Rūh (Jibril) naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij: 4)

Angka 50.000 tahun ini bahkan belum dihitung dengan menggunakan kecepatan cahaya untuk mengetahui ukuran kilometernya. Sebagaimana diketahui bahwa kecepatan cahaya sekitar 300.000 km per detik. Jika dihitung:

  • 1 menit = 60 detik
  • 1 jam = 60 menit
  • Sehari semalam = 24 jam
  • 1 tahun = 365 hari

Maka dalam 50.000 tahun terdapat sekitar 18.250.000 hari. Perhitungan 50.000 tahun itu pun baru menggambarkan jarak di langit pertama, belum termasuk langit kedua hingga ketujuh dan Sidratul Muntaha, sebagaimana dikisahkan dalam hadis panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (No. 162) bersumber dari Anas bin Malik r.a.

Berikut adalah daftar para nabi yang ditemui Rasulullah ﷺ di setiap lapisan langit:

Langit Ke-Nabi yang Ditemui
1Nabi Adam a.s.
2Nabi Isa a.s. & Nabi Yahya a.s.
3Nabi Yusuf a.s.
4Nabi Idris a.s.
5Nabi Harun a.s.
6Nabi Musa a.s.
7Nabi Ibrahim a.s.

Buah Tangan Terindah: Perintah Shalat 5 Waktu

Puncak dari Mikraj adalah ketika Nabi Muhammad ﷺ menerima perintah ibadah Shalat. Awalnya, Allah Swt. memerintahkan Shalat 50 kali sehari semalam. Namun, atas saran Nabi Musa a.s. dan kasih sayang Allah, jumlah tersebut dikurangi hingga menjadi 5 waktu saja, namun dengan nilai pahala yang setara dengan 50 waktu.

Meskipun jumlahnya sudah dikurangi, Nabi Musa a.s. masih menyarankan Rasulullah ﷺ untuk meminta keringanan (rukhsah) lagi, namun dijawab oleh beliau:

قدْ رَجَعْتُ إلى رَبِّي حتَّى اسْتَحْيَيْتُ منه

“Aku telah bolak-balik menemui Tuhanku sampai aku merasa malu (untuk meminta lagi agar dikurangi waktu Shalatnya).”

Ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan Shalat dalam Islam; ia adalah satu-satunya ibadah yang perintahnya diterima langsung oleh Nabi ﷺ di hadapan Allah tanpa perantara malaikat Jibril.

Hikmah untuk Kehidupan Kita

Peristiwa Isra Mikraj membawa pesan mendalam bagi umat Muslim saat ini:

Pertama: Pentingnya Menjaga Shalat Shalat adalah “Mikraj-nya” orang beriman untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Shalat itu bukan beban, melainkan hiburan untuk berkomunikasi kepada Allah Swt., sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

“Wahai Bilal, berdirilah. Jadikanlah Shalat ini sebagai istirahat (penyejuk hati) kita.” (HR. Abu Dawud: 4986).

Shalat juga merupakan penghapus dosa-dosa kita, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ؟ قَالُوا: لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا، قَالَ: فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا

Dari Abu Hurairah r.a., dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Bagaimana menurut kalian, jika ada sebuah sungai di depan pintu salah satu di antara kalian lalu ia mandi di sana lima kali setiap hari. Apakah masih ada tersisa kotorannya?” Para sahabat menjawab: “Tidak akan tersisa kotorannya walau sedikit.” Beliau bersabda: “Seperti itulah perumpamaan Shalat lima waktu, dengannya Allah menggugurkan kesalahan-kesalahan.” (HR. Bukhari: 528).

Kedua: Perjalanan Akhir Manusia adalah Di-mikraj-kannya Ruh Orang Mukmin Perjalanan akhir manusia di dunia adalah kematian. Bagi orang beriman, ruhnya akan dihadapkan langsung kepada Allah Swt. dengan cara “di-mikraj-kan” oleh para malaikat. Sebagaimana diceritakan oleh sahabat Al-Barra bin ‘Azib r.a. (HR. Abu Dawud: 4753, Ahmad: 18557, An-Nasa’i: 2001, dan Ibnu Majah: 1549):

عن البراء بن عازب خرجنا مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فذكر مثلَه إلى أن قال : فرفع رأسَه فقال : استعيذوا باللهِ من عذابِ القبرِ، مرَّتَيْن أو ثلاثًا، ثمَّ قال : إنَّ العبدَ المؤمنَ إذا كان في انقطاعٍ من الدُّنيا وإقبالٍ من الآخرةِ نزل إليه ملائكةٌ من السَّماءِ بِيضِ الوجوهِ، كأنَّ وجوهَهم الشَّمسُ معهم كفنٌ من أكفانِ الجنَّةِ، وحَنوطٌ من حنوطِ الجنَّةِ حتَّى يجلسوا منه مدَّ البصرِ، ويجيءُ ملَكُ الموتِ عليه السَّلامُ حتَّى يجلِسَ عند رأسِه فيقولُ : أيَّتها النَّفسُ الطَّيِّبةُ اخرُجي إلى مغفرةٍ من اللهِ ورِضوانٍ قال : فتخرُجُ فتسيلُ كما تسيلُ القطرةُ من في السِّقاءِ فيأخذُها فإذا أخذها لم يدَعوها في يدِه طرْفةَ عينٍ حتَّى يأخذوها فيجعلوها في ذلك الكفنِ، وفي ذلك الحَنوطِ، ويخرُجُ منه كأطيَبِ نفحةِ مِسكٍ، وُجِدت على وجهِ الأرضِ، قال : فيصعَدون بها فلا يمُرُّون على ملأٍ من الملائكةِ إلَّا قالوا : ما هذا الرُّوحُ الطَّيِّبُ ؟ فيقولان : فلانُ بنُ فلانٍ بأحسنِ أسمائِه الَّتي كان يُسمَّى بها في الدُّنيا حتَّى ينتهوا إلى السَّماءِ الدُّنيا فيستفتِحون له فيُفتَحُ له فيُشيِّعُه من كلِّ سماءٍ مُقرَّبوها إلى السَّماءِ الَّتي تليها حتَّى يُنتهَى بها إلى السَّماءِ السَّابعةِ فيقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ : اكتُبوا كتابَ عبدي في عِلِّيِّين وأعيدوه إلى الأرضِ في جسدِه…(أبو داود: 4753، أحمد: 18557، النسائي: 2001 ابن ماجه: 1549).

“Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ, kemudian beliau bersabda seraya mengangkat kepalanya: ‘Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur’ (dua atau tiga kali). Kemudian beliau bersabda: ‘Sesungguhnya seorang hamba yang beriman ketika berada di titik perpisahan dari dunia dan menuju akhirat, malaikat-malaikat turun dari langit dengan wajah putih bersinar laksana matahari. Mereka membawa kain kafan dan parfum dari surga sampai mereka duduk di sisinya sejauh pandangan mata. Datanglah Malaikat Maut a.s. hingga duduk di kepalanya dan berkata: Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan rida-Nya.’

Lalu ruh itu keluar dan mengalir seperti tetesan air dari mulut teko, diambilnya ruh itu, dan ketika diambil, ia tidak dibiarkan di tangan sesaat pun sebelum dibawa ke kain kafan dan parfum itu, lalu keluar darinya bau yang sangat harum laksana minyak misk terharum di muka bumi. Beliau berkata: Mereka naik dengan jiwa itu dan tidak melewati sekelompok malaikat pun kecuali mereka berkata: ‘Siapa ruh yang baik ini?’ Maka dikatakan: ‘Fulan bin Fulan’ dengan nama terbaiknya di dunia, sampai mereka ke langit dunia dan dibukakan pintu baginya, hingga sampai ke langit ketujuh. Lalu Allah Yang Maha Tinggi berfirman: ‘Tulislah kitab hamba-Ku di ‘Illiyyun dan kembalikan ke bumi dalam tubuhnya.’”

Ketiga: Kebenaran Melampaui Logika Isra Mikraj melatih keimanan kita untuk percaya pada kekuasaan Allah yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَه لِنُرِيَه مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami…” (QS. Al-Isra: 1)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top